The Spirit of Abstraction

September 19, 2016 2016年9月19日

Christine Ay Tjoe is one of the most prominent female contemporary artists from Indonesia. Ay Tjoe’s practice encompasses painting on canvas, works on paper, sculptures and large, room-sized installations.


Christine Ay Tjoe adalah salah satu seniman wanita yang paling menonjol dari Indonesia. Praktik Ay Tjoe meliputi melukis di atas kanvas, berkarya di atas kertas, mematung, dan instalasi ruangan skala besar.

Ay Tjoe started her career as a graphic artist exploring the intaglio dry point printing technique, a process where artists create an impression of a drawing that, when inked, can be printed from. Lines remain paramount in Ay Tjoe’s printings, which clearly reflects her past experience in printmaking.


Ay Tjoe mengawali karirnya sebagai seniman grafis yang mengeksplorasi teknik percetakan titik kering intaglio, yaitu sebuah proses di mana seniman menciptakan kesan pada gambar yang, ketika diberi tinta, dapat dicetak. Garis-garis tetap penting dalam lukisan Ay Tjoe, yang secara jelas mencerminkan pengalamannya di masa lalu dalam seni grafis.

In the series of 12 paintings in 2016 including Demonic Possession, Greed and Greed 1, Greed and Greed 2, and Concealer Player, which Ay Tjoe completed using oil bar, the colourful and powerful lines express a sense of physical urgency. Beyond the immediate beauty of those paintings, Ay Tjoe explores philosophical and psychological questions about our modern age and the human condition.


Dalam serangkaian 12 lukisan di tahun 2016 termasuk Kerasukan Setan, Keserakahan dan Ketamakan 1, Keserakahan dan Ketamakan 2, dan Pemain yang Menyembunyikan Sesuatu, di mana Ay Tjoe menyelesaikannya dengan menggunakan papan minyak, garis-garis penuh warna dan kuat mengekspresikan rasa urgensi fisik. Di atas semua keindahan lukisan itu, Ay Tjoe mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan filosofis dan psikologis tentang zaman modern dan kondisi manusia.

Partial figures emerge from within the paintings’ dramatic passages of abstraction: a planet, a huge face, a tiny human figure, a weapon, and so on. Ay Tjoe has been quoted as saying these forms are “metaphors for figures of authority, figureheads or ‘gods’, and forces that influence and shape our behaviour.”


Figur-fitur parsial muncul dari dalam bagian-bagian abstrak yang dramatis dari lukisan itu: planet, wajah besar, sosok manusia kecil, senjata, dan sebagainya. Ay Tjoe mengatakan bahwa bentuk-bentuk ini merupakan “metafora untuk figur otoritas, boneka atau ‘dewa’, dan kekuatan yang mempengaruhi dan membentuk perilaku kita.”

She explains: “My interest point is human beings. In my work, I talk more about what will happen in terms of human trends, whether it be local or global. I’ll see these possibilities in my mind and turn them into artistic concepts.”


La menjelaskan: “Fokus minat saya adalah manusia. Dalam karya saya, saya berbicara tentang apa yang akan terjadi kaitannya dengan tren manusia, apakah itu secara lokal atau global. Saya akan melihat kemungkinan-kemungkinan ini dalam pikiran saya dan mengubahnya menjadi karya seni.”

The earthly brown or red colours reveal an internal world full of emotions and thoughts, and a careful contemplation on the notion of abjection and of the human condition filtered through the artist’s subjective experiences.


Warna coklat atau merah tanah yang sering digunakan dalam lukisannya mengungkapkan dunia internal penuh dengan emosi dan pikiran, serta kontemplasi mendalam mengenai gagasan tentang kehinaan dan kondisi manusia yang disaring melalui pengalaman subjektif Ay Tjoe.